June 05, 2011

Cintaku Hanyalah Untuk.....

Baru selesai membaca NASIONAL.IS.ME-nya Pandji.

Oke.. mm..

Jadi di e-book itu Pandji cerita ngalor-ngidul tentang macem-macem hal. Awalnya tentang.. skeptisnya orang Indonesia terhadap bangsanya. Bahkan ada yang bilang benci. Kemudian tentang pengalaman hidupnya dari tahun 1990 sampai 1999. Di bagian selanjutnya dia cerita tentang hal-hal lainnya, tentang betapa indah dan kerennya Indonesia yang dia tangkap saat keliling ke berbagai kota di nusantara.

Yang paling saya ingat adalah cerita saat Pandji di Kupang dalam misi bersama Lifebuoy untuk revitalisasi ratusan Posyandu di sana. Emang sih selama ini sudah kayak tertanam di kepala bahwa daerah NTT sana kering. Tapi selama ini pikiran cuma berhenti di "Iklimnya kering. Ada sabana." Karena ceritanya Pandji saya bisa lebih menghayati. Pikiran itu jadi berkembang ke manusianya. "Gimana caranya hidup di tempat kering begitu?"

Jadi sebenarnya.. e-book ini cukup bagus kok.

Hanya saja...
nasionalisme bukanlah hal yang penting bagi saya. Saya menemukan diri sebagai seorang manusia. Bukan rakyat Indonesia atau orang Surabaya. Manusia! Ada suatu tugas utama yang diberikan kepada saya sebagai manusia. Alasan dari eksistensi ini. Coba pahami maksud saya.

Jadi ingat sepotong pembicaraan dengan seorang teman saat kami menyusuri jalan, dinaungi deretan pepohonan yang membentuk kanopi hijau menakjubkan.
Dia mengingatkan bahwa saya harus kembali ke sini, Indonesia, setelah nanti selesai belajar di luar negeri. (padahal saya sendiri belum ada rencana pasti mau sekolah ke luar seperti itu)
Tapi saya tanya, kenapa? Apa alasannya? Saya boleh saja kan berkontribusi di negara lain, di sana juga banyak orang-orang yang butuh bantuan, anak-anak yang kelaparan. Yang penting membantu kan?
Dia bilang karena saya pernah di sini, kenal orang-orang di sini, punya hubungan hati denngan mereka, dan saya bisa membantu orang-orang di sini untuk memperbaiki masa depan.

Kesimpulan saya?
Ya, sepertinya (kalau skenario sekolah ke luar negeri itu beneran jadi nyata) saya akan kembali ke sini. Ah tapi bukan atas nama nasionalisme, bukan atas nama kecintaan terhadap bangsa, atau keinginan untuk memajukannya.. melainkan atas nama kemanusiaan. Dan saya mungkin akan memilih untuk kembali seperti burung-burung yang memilih untuk kembali ke sarangnya setelah bermigrasi. Seperti kupu-kupu. Seperti ikan-ikan salmon. Karena insting.

Mungkin.

Saya adalah orang yang selalu ragu dengan dirinya sendiri ^^'

Apakah pemikiran ini salah?

1 commentaire:

  1. ah, saya juga! nasionalism means yada-yada to me :)

    ReplyDelete

you've read my words, now leave me some of yours!