Pagi ini, saat aku baru saja terbangun, seseorang menghampiri tempat tidurku dan duduk di sana. Ia lantas bicara, “Jadi pahlawan itu tidak gampang.” Mukanya menunduk ke bawah dengan aura kesedihan yang kental.
Aku mengucek mata sebentar, lalu menggeliat, membenarkan posisi selimutku, dan memeluk guling lebih rapat. Orang itu tidak menghilang. Sepertinya bukan mimpi.
Ada jeda yang cukup lama karena aku tidak yakin bagaimana harus menanggapi. Sebenarnya aku tergoda untuk menjawab, “Curhat?” seperti yang biasa kulakukan ke orang-orang lainnya. Tapi tampaknya dia sedang sangat terpuruk. “Eh? Kenapa?” Kuputuskan untuk bertanya.
“Masa nggak tau? Sudah jelas kan? Masih nanya juga.”
Lho, mangkelno. Mungkin orang ini sedang sumpek sekali. Sepertinya aku yang harus melembut.
“Jadi begini,” dia kembali menjelaskan tanpa kutanya, “tentu saja yang namanya pahlawan itu harus kuat. Kan kita melawan kejahatan. Tapi pahlawan tidak boleh jadi kuat saja, dia harus sangat kuat! Karena kalau tidak, ya dia tidak pantas jadi pahlawan. Kalau dia biasa saja kejahatan akan ditumpas oleh pahlawan lain yang jauh lebih kuat. Akhirnya dia tidak akan pernah bisa menyelamatkan. Itu artinya dia gagal jadi pahlawan. Dan itu mangkelno sekali. Kalau kamu jadi seperti itu kamu akan merasa dirimu tidak berguna. Rendah sekali.”
Ngomong apa sih orang ini?
“Tidak hanya itu. Pahlawan, sama juga seperti polisi, adalah orang-orang yang sering berinteraksi dengan kejahatan. Makanya kita juga rawan terpengaruh kejahatan dan jadi jahat. Bahkan beberapa pahlawan memang jadi jahat kan, kalo kamu lihat di film-film itu?”
Aku mengangguk.
“Nah tapi kadang energi kepahlawanan kita begitu tinggi saat tidak ada kejahatan. Di saat seperti itu, kita tidak boleh menciptakan kejahatan untuk kita perangi sendiri.”
Aku mengangguk lagi, pura-pura mengerti. Aku sendiri belum pernah menjadi pahlawan, tidak bisa memberi saran apa-apa. Aku cuma ingin menemani orang ini agar dia tidak sampai bunuh diri.
“Kamu habis kenapa?” tanyaku, sok perhatian.
“Aku habis gagal menyelamatkan orang.”
Jeda agak lama.
“Sebenarnya aku sudah mengamatinya lho, aku sudah merasakannya! Instingku sudah bilang kalau orang ini dalam bahaya dan harus diselamatkan. Tapi aku terlalu lama berpikir.. terlalu lama mengamati. Dan akhirnya dia...”
“Dia tidak terselamatkan??”
“Selamat kok. Dia menyelamatkan dirinya sendiri.”
“Oh, baguslah kalo gitu.”
“Bagus.. Tapi kenapa aku merasa tidak bagus?” Dia menutup mukanya, mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi, lalu melanjutkan, “Kenapa aku ingin sekali jadi orang yang berjasa dan menyelamatkan? Bukankah yang paling penting adalah keselamatan itu sendiri dan bukan aksiku? Kenapa aku ini??”
Aku bangun dari tempat tidur, mencoba menenangkan orang aneh ini. “Tenang dong, biasa aja, nggak usah mikir aneh-aneh begitu. Kalau memang belum siap jadi pahlawan ya... mungkin kamu ambil cuti dulu saja.”
“Tidak bisa!” jawabnya cepat. “Di dunia ini cuma ada tiga jenis: penjahat, pahlawan, dan orang-orang yang menjadi objek. Aku jelas tidak mau jadi penjahat. Apalagi jadi orang yang jadi objek, lemah, dan butuh diselamatkan. Aku tetap harus jadi pahlawan.”
Kenapa dia tiba-tiba bisa memotivasi dirinya sendiri begini? Aneh --‘
“Apa yang bisa kamu simpulkan dari pembicaraan ini?” tanyanya.
“Err.. Jadi seorang pahlawan itu harus sangat kuat agar bisa menyelamatkan, sangat teguh agar tidak terpengaruh kejahatan, sangat sabar agar tidak tergoda membuat keonaran sendiri, dan tidak boleh menyerah walaupun gagal berkali-kali.”
Orang ini tersenyum. “Nah. Sepertinya kamu sudah mengerti.” Dia menepuk-tepuk pundakku. “Terima kasih ya sudah mendengarkan. Sekarang aku kembali ke tempatku.”
Tangannya lalu menjulur menyentuh badanku, lalu seluruh dirinya perlahan merasuk dan menyatu.
oalah pantes telat lesnya, dadakno ngeblog dhisik, hehe
ReplyDeleteAh, such a method of being humble.
ReplyDeletehumble? --' i was just conversing with myself about failure, of being a hero that is.
ReplyDeleteItu salah satu imajimu, skizofren? --a
ReplyDeletenggak sopan rek --' manggil-manggil skizofren
ReplyDelete