April 23, 2011

Cara Jenius Menghadapi Ujian

Teeet... teeeett...!!

Terdengar suara bel berbunyi dua kali. Pelan-pelan kubuka lembaran soal bersampul hijau di depanku.

Halaman pertama. Hah, soal macam apa ini? Terlalu mudah! Sama sekali tidak menantang! Kubalik lagi lembaran itu. Halaman kedua lebih parah lagi. Ini sih soal anak SD! Lalu halaman ketiga, hanya soal-soal gradien dan bangun ruang sisi lengkung. Sepuluh menit pun cukup untuk menyelesaikan empat puluh soal ini.

Sungguh, tak kukira Ujian Nasional akan segampang ini.

Aku kecewa pada pemerintah. Standar dinaikkan, itu bagus sekali. Tapi soal macam apa ini? Benar-benar tidak layak. Aku akan ajukan protes ke kantor gubernur setelah ini. Sungguh, aku tidak bercanda!

Kalau Indonesia terus seperti ini mau jadi apa bangsa kita? Kapan kita akan menyusul Malaysia? Kapan kita bisa bersaing dengan Singapura?



Ah, mungkin suatu hari nanti aku akan pindah. Mungkin ke Australia, lebih baik lagi ke Amerika. Aku akan mengendarai BMW ke tempat kerja. Lalu di saat senggang aku akan berkeliling dengan Harley Davidson. Seorang wanita cantik akan melirikku dari balik kacamata hitamnya. Dia akan berkata pada dirinya sendiri, "Oh God, I can't believe my own eyes! What a cool guy.. I'll do anything to be with him!" Mungkin dia akan jadi istriku. Kalau bukan dia, pasti wanita yang lebih cantik lagi. Yang jelas aku akan menikahi seorang gadis bule.

Aku bisa melihatnya dengan jelas, masa depan yang cerah menantiku!

Kulirik jamku, lima belas menit telah berlalu. Kucari soal cerita yang kelihatan paling menarik. Nah, ini dia, nomor 17:
Adi memiliki dua tabung kaca. Tabung A memiliki diameter 10 cm dan tinggi 15 cm. Tabung B memiliki diameter 20 cm dan tinggi 12 cm. Tabung A terisi air, lalu Adi menuangkan seluruh air ke tabung B. Berapakah ketinggian air pada tabung B?
Ah gampang sekali. (5 cm x 5 cm x 15 cm) : (10 cm x 10 cm) = 375 cm3 : 100 cm2 = 3,75 cm

Terlalu gampang.

Aku jadi bosan.

Tunggu, aku baru sadar kelas ini sunyi sekali. Ada apa? Memangnya sedang mengheningkan cipta?

Oh, bukan. Ternyata mereka hanya sedang berkonsentrasi. Kuperhatikan satu per satu wajah teman-temanku ini. Tiga anak sedang membaca soal sambil mengerutkan dahi, lima anak sibuk mencorat-coret lembar buram, dan sebelas anak terlihat pasrah. Wajah mereka kebanyakan pucat, dan lembar jawaban mereka masih kosong.

Satu anak melirik ke arahku. "Eh, nomor dua apa?" bisiknya sambil menunjukkan isyarat 'damai' di tangan kanan.

Aku mengangkat bahu sambil balas berbisik, "Aku belum!"

Aku jujur kan? Aku tidak bohong kok, aku belum mengerjakan nomor dua. Tapi terlihat jelas di wajahnya dia kaget sekaligus tidak percaya aku belum menyelesaikannya.

Suatu keheranan yang wajar bagiku, mengingat empat puluh soal ini bisa kukerjakan hanya dalam sepuluh menit.

Anak itu masih saja memasang ekspresi bodoh di wajahnya, seakan berkata, "Bohong kan? Nggak mungkin!" Tapi setelah beberapa saat akhirnya ia menyerah juga.

Lambat laun kelas mulai diramaikan bisikan-bisikan dan isyarat tangan. Kuperhatikan dua bangku pengawas di depan, kosong! Ke mana mereka? Aku menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya kutemukan mereka sedang mengobrol di teras kelas. Yang satu tertawa, lalu yang lain tertawa lebih keras. Dua wanita yang seharusnya menjaga kelas ini melalaikan tanggung jawabnya! Wanita macam apa mereka ini? Aku bertanya-tanya, apa mereka juga tidak bertanggungjawab sebagai ibu rumah tangga? Bahkan, adakah pria yang sudi melamar wanita-wanita tukang gosip ini? Kalau besar nanti akan kupastikan aku tak menikahi wanita seperti mereka!

Anak-anak di kelas ini semakin keterlaluan. Beberapa saling melempar kertas, salah sasaran dan mengenai kepalaku! Atau mereka memang melemparkannya padaku? Aku menoleh, kulihat wajah pelempar kertas yang penuh harap. Kepalanya mengangguk-angguk sambil menunjuk gumpalan kertas yang dilemparnya tadi. Dengan terpaksa kupungut kertas itu. Di dalamnya tertulis:

1.                     15.
2.                     17.
3.                     19.
4.                     21.
9.                     33.

Hah? Apa-apaan ini? Dia menanyakan jawaban sepuluh nomor kepadaku? Apa dia tidak tahu malu? Aku paham banyak sekali orang bodoh di dunia ini, tapi aku baru tahu bahwa lumayan banyak juga orang bodoh yang tidak tahu malu. Salah satunya berada tepat di seberang bangkuku! Aku benar-benar menyesal mengenal orang seperti dia.

Dengan enggan kutuliskan "B" di sebelah angka 17, satu-satunya nomor yang sudah kukerjakan. Kutuliskan besar-besar di balik kertas itu: "AKU BELUM SELESAI" lalu kuremas kembali sampai membentuk gumpalan kumal dan kulempar padanya.

Kuperhatikan dia membuka kertas itu dengan penuh semangat. Sedetik kemudian wajahnya berubah kaget. Kedua alisnya bertemu di tengah.

"Hah??" bisiknya sambil mengangkat kertas tadi. Aku pura-pura tidak melihat.

Ah, aku jadi kepikiran. Bagaimana kalau anak-anak yang lain juga bertanya padaku? Aku sama sekali tidak rela membagi kerja keras otakku--walaupun empat puluh soal ini sama sekali bukan hal berat bagi otakku yang encer--pada mereka. Bukankah memberi jawaban pada mereka justru sebuah pembodohan? Kapan mereka akan mulai membuka buku?

Selain itu mataku perih melihat praktik kecurangan di mana-mana. Anak-anak ini mengutuk pejabat yang korupsi, tapi mereka sendiri melakukan korupsi nilai! Oh, akan jadi apa Indonesia kelak kalau pemuda-pemudinya seperti ini? Sepertinya keputusanku sudah bulat, aku akan pergi selamanya dari Indonesia!

Pokoknya aku tak akan menjawab pertanyaan mereka! Cukup nomor tujuh belas tadi saja yang kuberikan, aku sudah cukup berbaik hati melakukannya.

Tapi kupikir-pikir lagi... pasti ada risiko atas keputusan yang kuambil tadi. Seperti kata Sir Isaac Newton, idolaku nomor satu, setiap aksi pasti menimbulkan reaksi. Kalau aku tidak memberi jawaban pada mereka pasti mereka akan menuduhku sombong, pelit, jahat, dan apalah. Itu tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak butuh teman semacam mereka. Tapi kalau mereka sampai benar-benar benci padaku, mereka bisa saja melakukan hal-hal yang membahayakan. Misalnya mengolok-olok setiap hari, memfitnahku, atau bahkan MEMBUNUHKU!

Sungguh mengerikan, tapi aku yakin orang-orang barbar seperti mereka bisa melakukannya, karena mereka tak punya otak untuk berpikir panjang.

Jadi bagaimana ini?

Aku tidak mau hidupku berakhir seperti itu. Masa depanku jelas cerah, aku bisa membawa banyak perubahan untuk dunia. Aku akan menggantikan teori-teori dari ilmuwan yang, tanpa mengurangi rasa hormat, kurang cerdas. Aku akan menjadi panutan dunia. Sungguh sayang sekali kalau kejeniusanku ini jadi sia-sia karena tindakan anarkis sekelompok siswa SMP yang frustasi karena tidak lulus Ujian Nasional!

Hmm.. aku berpikir singkat saja untuk mendapatkan gagasan brilian ini: aku akan mengerjakan semua, empat puluh soal ini, dalam sepuluh menit terakhir. Mereka semua pasti sudah selesai, dengan jawaban sekenanya atau bahkan ngawur. Tapi aku dengan tenang akan mengerjakan semuanya dalam sepuluh menit. Aku tahu aku bisa.

Kubayangkan saat pengumuman kelulusan aku mendapat nilai 40! Nilai sempurna untuk semua mata pelajaran. Lalu aku akan....

..Teet!! Teeeett...!!!

Bel? Hah? Bel??!

Tidak mungkin! Kulirik jam digitalku, 10.00 tepat! Sudah selesai??!

AAAAAAARRGHHHH!!


2008

3 commentaire:

  1. cak, nyegekno. tak kira entuk perfect tenanan areke. Apik tapi isine. sangar

    ReplyDelete
  2. haha, kesombongan kan ada balasannya.
    tidak jujur dan tidak amanah juga pasti dibalas, walaupun mungkin nggak terlalu kelihatan.

    ReplyDelete
  3. anak kemarin malamApr 24, 2011 04:06 AM

    haha bener kuwi vin
    balasannya bisa invis, ati2 ben gak sombong :p
    sering2 update blognya :D

    ReplyDelete

you've read my words, now leave me some of yours!